Pages

BOLEH DICOPY, DILARANG PASTE.... Diberdayakan oleh Blogger.

PUPUK NPK SUPER

Selasa, 29 Desember 2015

HARGA TBS 2016 SEMOGA TIDAK RONTOK SEPERTI TAHUN 2015



Pertengahan tahun 2015 harga TBS mulai rontok. Untuk TBS petani swadaya bahkan ada yang sampai menyentuh harga dilevel Rp. 300-Rp. 450 per Kg. Kondisi yang sangat memprihatikan, padahal diawal tahun 2015 harga TBS petani swadaya masih berkisar diatas Rp. 1200 per Kg.

TBS swadaya, sumber gambar: antaranews.com




Ada beberapa faktor kenapa harga TBS dipertengahan tahun 2015 anjlok, terutama anjloknya permintaan akan CPO itu sendiri (hehehee). Dimana pada pertengahan bulan november 2015 harga CPO menyentuh level terendahnya yaitu dekisaran harga USD 539 per ton. Jadi yang betul adalah faktor kenapa harga CPO turun drastis, yang pertama dikarenakan turunnya harga minyak dunia. Harga minyak dunia ini seperti bergandengan tangan dengan harga CPO, jika naik harga minyak dunia, biasanya naik juga harga CPO. Hal ini dikarenakan CPO juga merupakan sumber energi alternatif, jadi kalau minyak bumi lebih murah tentu banyak negara atau perusahaan yang menggunakan sumber energinya menggunakan minyak bumi itu sendiri karena penggunaanya yang lebih mudah, tidak memerlukan proses lanjutan. Selain itu naik atau turunnya harga minyak dunia tentu mempengaruhi biaya pengapalan/pengiriman CPO itu sendiri. Jadi kita tidak usah bingung kenapa kalau harga minyak dunia anjlok harga CPO kok ikutan anjlok. Harga minyak dunia itu sendiri bagai pisau bermata dua bagi pisau bermata dua bagi Indonesai, kalau lagi murah tentu harga BBM juga akan murah, tapi mengakibatkan harga CPO ikut murah, sedangkan kalau harga minyak dunia naik, harga BBM juga ikut naik, tapi harga CPO juga ikut naik. Jadi pilih yang mana kita?

Kedua penyebab harga CPO ditahun 2015 anjlok adalah turunnya permintaan dari negara-negara tujuan ekspor CPO itu sendiri, seperti negara-negara Eropa, Timur Tengah dan tiongkok. Melambatnya perekonomian dinegara tujuan ekspor juga turut menyebabkan turunnya tingkat konsumsi masyarakat.

Yang ketiga, CPO merupakan sumber minyak nabati. Didunia ini ada beberapa tanaman penghasil minyak nabati, yaitu kedelai, rapeseed dan biji bunga matahari. Ditahun 2015 produksi tanaman-tanaman penghasil minyak nabati saingan CPO ini lagi panen besar sehingga persediaan minyak nabati dunia overload, hal ini tentu juga menjadi penyebab kenapa permintaan CPO juga rendah, maklum saingan banyak dan harga lebih murah. Kalau permintaan rendah tentu harganya juga rendah, penting ada yang mau beli saja Alhamdulillah.

Namun Alhamdulillah diakhir Desember tahun 2015 harga TBS petani swadaya sudah kembali ke harga Rp. 1000-Rp. 1050 per Kg. Kembali naiknya harga TBS ini dikarenakan dimulai adanya peningkatan pernintaan CPO ke negara-negara tujuan ekspor, terutama negara Tiongkok, Pakistan dan negara-negara Uni Eropa. Namun peningkatan permintaan ini belum seperti yang diharapkan pengusaha sawit.


Menurut proyeksi GAPKI (gabungan pengusaha sawit Indonesia) ditahun 2016 harga CPO berada dikisaran USD 580-USD 600. Naik sedikit ketimbang tahun sebelumnya. Selain itu kenaikan harga CPO ini juga dipengaruhi oleh mulai diterapkannya mandatori biodesel. Jadi mulai tahun 2016 CPO akan digunakan sebagai campuran solar sebesar 15%-20% sehingga menyebabkan komnsumsi CPO dalam negeri diperkirakan sebesar 13 juta-15 juta ton per tahun. Hal ini tentu menyebabkan permintaan CPO dalam negeri akan naik. Kalau hal ini dapat terealisasi mudah-mudahan penjualan CPO kita tidak hanya tergantung kepada ekspor. Kalau masalah produksi CPO diperkirakan turun, kita sebagai petani tidak seberapa peduli asalkan penurunan itu disebabkan oleh turunnya produksi TBS inti (hehehee) bukan disebabkan oleh turunnya produksi TBS petani yang perekonomiannya sangat mengandalkan produktivitas kebun mereka.

0 komentar

Posting Komentar

PUPUK NPK SUPER

PUPUK NPK SUPER
CARA LAIN DALAM MEMUPUK SAWIT