Pertengahan
tahun 2015 harga TBS mulai rontok. Untuk TBS petani swadaya bahkan ada yang
sampai menyentuh harga dilevel Rp. 300-Rp. 450 per Kg. Kondisi yang sangat
memprihatikan, padahal diawal tahun 2015 harga TBS petani swadaya masih
berkisar diatas Rp. 1200 per Kg.
TBS swadaya, sumber gambar: antaranews.com
Ada beberapa
faktor kenapa harga TBS dipertengahan tahun 2015 anjlok, terutama anjloknya
permintaan akan CPO itu sendiri (hehehee). Dimana pada pertengahan bulan
november 2015 harga CPO menyentuh level terendahnya yaitu dekisaran harga USD
539 per ton. Jadi yang betul adalah faktor kenapa harga CPO turun drastis, yang
pertama dikarenakan turunnya harga minyak dunia. Harga minyak dunia ini seperti
bergandengan tangan dengan harga CPO, jika naik harga minyak dunia, biasanya
naik juga harga CPO. Hal ini dikarenakan CPO juga merupakan sumber energi alternatif,
jadi kalau minyak bumi lebih murah tentu banyak negara atau perusahaan yang
menggunakan sumber energinya menggunakan minyak bumi itu sendiri karena
penggunaanya yang lebih mudah, tidak memerlukan proses lanjutan. Selain itu
naik atau turunnya harga minyak dunia tentu mempengaruhi biaya
pengapalan/pengiriman CPO itu sendiri. Jadi kita tidak usah bingung kenapa
kalau harga minyak dunia anjlok harga CPO kok ikutan anjlok. Harga minyak dunia
itu sendiri bagai pisau bermata dua bagi pisau bermata dua bagi Indonesai,
kalau lagi murah tentu harga BBM juga akan murah, tapi mengakibatkan harga CPO
ikut murah, sedangkan kalau harga minyak dunia naik, harga BBM juga ikut naik,
tapi harga CPO juga ikut naik. Jadi pilih yang mana kita?
Kedua penyebab
harga CPO ditahun 2015 anjlok adalah turunnya permintaan dari negara-negara
tujuan ekspor CPO itu sendiri, seperti negara-negara Eropa, Timur Tengah dan
tiongkok. Melambatnya perekonomian dinegara tujuan ekspor juga turut
menyebabkan turunnya tingkat konsumsi masyarakat.
Yang ketiga, CPO
merupakan sumber minyak nabati. Didunia ini ada beberapa tanaman penghasil
minyak nabati, yaitu kedelai, rapeseed dan biji bunga matahari. Ditahun 2015
produksi tanaman-tanaman penghasil minyak nabati saingan CPO ini lagi panen
besar sehingga persediaan minyak nabati dunia overload, hal ini tentu juga
menjadi penyebab kenapa permintaan CPO juga rendah, maklum saingan banyak dan
harga lebih murah. Kalau permintaan rendah tentu harganya juga rendah, penting
ada yang mau beli saja Alhamdulillah.
Namun
Alhamdulillah diakhir Desember tahun 2015 harga TBS petani swadaya sudah
kembali ke harga Rp. 1000-Rp. 1050 per Kg. Kembali naiknya harga TBS ini
dikarenakan dimulai adanya peningkatan pernintaan CPO ke negara-negara tujuan
ekspor, terutama negara Tiongkok, Pakistan dan negara-negara Uni Eropa. Namun peningkatan
permintaan ini belum seperti yang diharapkan pengusaha sawit.
Menurut proyeksi
GAPKI (gabungan pengusaha sawit Indonesia) ditahun 2016 harga CPO berada
dikisaran USD 580-USD 600. Naik sedikit ketimbang tahun sebelumnya. Selain itu
kenaikan harga CPO ini juga dipengaruhi oleh mulai diterapkannya mandatori
biodesel. Jadi mulai tahun 2016 CPO akan digunakan sebagai campuran solar sebesar
15%-20% sehingga menyebabkan komnsumsi CPO dalam negeri diperkirakan sebesar 13
juta-15 juta ton per tahun. Hal ini tentu menyebabkan permintaan CPO dalam
negeri akan naik. Kalau hal ini dapat terealisasi mudah-mudahan penjualan CPO
kita tidak hanya tergantung kepada ekspor. Kalau masalah produksi CPO
diperkirakan turun, kita sebagai petani tidak seberapa peduli asalkan penurunan
itu disebabkan oleh turunnya produksi TBS inti (hehehee) bukan disebabkan oleh
turunnya produksi TBS petani yang perekonomiannya sangat mengandalkan
produktivitas kebun mereka.

0 komentar
Posting Komentar